Papeda: Kisah Sagu dan Sayur Lokal dari Timur Indonesia
Gadis Papua menikmat semangkuk papeda dan ikan kuah kuning. (FOTO: TIMES AI Academy)

Papeda: Kisah Sagu dan Sayur Lokal dari Timur Indonesia

Papeda, makanan khas Papua dan Maluku berbahan sagu, menyimpan makna budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal dalam menjaga alam serta ketahanan pangan.

TIMES Papua,Minggu 25 Januari 2026, 00:11 WIB
1.4K
K
Khodijah Siti

PAPUADi tengah popularitas kuliner Nusantara seperti rendang dan nasi goreng, Indonesia Timur menyimpan kekayaan rasa yang tak kalah memikat. Salah satunya adalah Papeda, makanan khas Papua dan Maluku yang tampil sederhana, namun sarat makna budaya dan filosofi hidup masyarakat setempat.

Papeda terbuat dari tepung sagu, bahan pangan utama masyarakat pesisir dan pedalaman Papua sejak ratusan tahun lalu. Bentuknya berupa bubur kental berwarna bening dengan tekstur lengket dan elastis. Sekilas tampak asing, bahkan bagi sebagian orang terlihat “tidak biasa” untuk disantap. Namun justru di situlah keunikan Papeda berada.

Disantap dengan Ikan Kuah Kuning

Berbeda dengan makanan berbasis nasi atau gandum, Papeda nyaris tidak memiliki rasa. Ia diciptakan untuk menyatu dengan lauk pendamping, terutama ikan kuah kuning yang kaya rempah seperti kunyit, serai, bawang, dan jeruk nipis. Perpaduan ini menghadirkan sensasi hangat, segar, dan menenangkan.

Cara menyantap Papeda pun tidak sembarangan. Biasanya digunakan dua batang kayu atau garpu untuk memutar Papeda hingga menggulung, lalu dipindahkan perlahan ke piring. Proses ini sering dilakukan bersama-sama, menjadikan makan Papeda sebagai aktivitas komunal yang mempererat hubungan sosial.

Sayur Hutan Peningkat Rasa

Selain disantap dengan ikan kuah kuning, masyarakat Papua dan Maluku juga kerap menyajikan Papeda bersama aneka sayur lokal yang tumbuh di sekitar hutan dan pekarangan. Sayur-sayuran ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga mencerminkan kedekatan masyarakat lokal dengan alam.

Salah satu sayur yang paling umum adalah daun gedi. Daun ini memiliki tekstur sedikit berlendir ketika dimasak, sehingga menyatu sempurna dengan Papeda. Daun gedi biasanya dimasak sederhana, direbus atau ditumis ringan dengan bawang dan sedikit garam, mempertahankan rasa alaminya. Kandungan serat dan nutrisinya membuat hidangan ini mengenyangkan sekaligus menyehatkan.

Selain daun gedi, masyarakat lokal juga menggunakan daun pepaya, kangkung hutan, dan daun singkong. Daun pepaya memberikan rasa pahit yang khas dan dipercaya baik untuk pencernaan, sementara kangkung hutan memiliki rasa lebih kuat dibandingkan kangkung budidaya. Daun singkong, yang direbus hingga empuk, sering disajikan sebagai penyeimbang rasa Papeda yang netral.

“Kalau ada Papeda, harus ada sayur hutan,” tutur Maria Kareth, warga Maluku Tengah (20/1/2026).

Kearifan Lokal

Penyajian Papeda dengan sayur lokal menunjukkan filosofi hidup masyarakat Timur Indonesia yang tidak berlebihan dan selaras dengan alam. Bahan makanan diambil secukupnya, diolah tanpa banyak bumbu, dan disantap bersama. Kombinasi Papeda, ikan, dan sayur lokal menjadikan satu hidangan lengkap yang mencerminkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.

Lebih dari sekadar tradisi, Papeda juga mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. Pohon sagu tumbuh alami tanpa pupuk kimia dan mampu bertahan di lahan basah. Dalam konteks ketahanan pangan dan perubahan iklim, sagu justru menjadi sumber karbohidrat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kuliner Autentik Melintas Batas

Sayangnya, Papeda masih sering dipandang sebagai makanan daerah yang kalah pamor dibandingkan kuliner modern. Padahal, di balik kesederhanaannya tersimpan nilai gizi, sejarah, dan identitas yang kuat.

Kini, seiring meningkatnya minat terhadap kuliner autentik, Papeda mulai mendapat tempat di restoran dan festival budaya. Bahkan di Malang dan beberapa kota lain di Jawa Timur banyak pedagang kaki lima kini menjajakan papeda dan mengenalkannya kepada anak-anak.

Mencicipi Papeda berarti membuka diri pada pengalaman kuliner yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang Indonesia yang begitu beragam. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Khodijah Siti
|
Editor:Khodijah Siti

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Papua, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.